Mutiaraku tergantung indah
Diatas kelopak penuh warna
Sebiduk menghalau namun tiada rebah
Berlinangkan bahagia akan kisah asmara
Kujatuhkan sudah semua angan ini, tanpa keputus-asaan
Kutampakan jelas pada siulan
Berpetuah menguap berakar tanpa sela
Jujur aku hanya bisa bercerita mengenang merdu damaikan jiwa
Widya panca pesona
Kenapa kau riuhkan hasrat para pujangga
Yang sedang ragu mengusap paceklik rasa
Kembali bergairah diuntai hasutan gita cinta
Widya panca pesona
Aku sudah pernah terombang-ambing
Menghirup semua aroma
Pada wewangian kearifan sepi
Jangan kau tampakkan wujud kesemuan
Seiring hilangnya panca pesonamu
Tapi gantilah dengan ikatan yang semakin kuat
Menggeliat membimbing titik trauma kegalauan jiwa
Kuungkap sudah semua danau kisah lama
Dalam endapan butiran air mata ini
Aku rela bertasbih khusuk diatas bukit penyesalan
Berharap hembusan aura cinta yang terus berkelindan
WIDYA PANCA PESONA
LAGU PARA PENCARI
Putera – puteri ibu pertiwi
Mengumandangkan Lagu Indonesi Raya
Tanda 65 Tahun sudah Negeriku refleksikan kemerdekaannya
Kebisuan seakan bersuara
Lebih nyaring diantara teriakan-teriakan
Yang menggempur kekosongan Pandangan
Yang matipun seolah hidup kembali, menampakkan kobarannya
Semangat dan jasanya pada negeri
Suara para pencari, suara putera - puteri ibu pertiwi
Menanyakan; Apakah arti kemerdekaan sudah memihak kami?
Dimana langkah kami belajar, menuju gedung sekolah pun masih terbatasi
Ditahan bayaran pangkal yang sudah berapa juta sendiri
Satu, dua, tiga, mungkin ribuan distruksi
Walau kami tahu betapa tingginya sudah, gaji guru kami saat ini.
Jangan jadikan kami buruh tuli dalam keterbatasan ini
Atau kerena ketidak sanggupan kami membiayai pendidikan kami
Buku –buku kami, tugas lks kami, seragam kami, dan biaya spp yang meniggi
Ataukah memang kami dicetak begini
Diantara putra simampu dan putra sikaya yang melaju dengan pendidikan tinggi
Derap denting suara para pencari
Melangkah dengan bias diatas kertas putih
Yang mungkin tesendat atau bahkan melayu..
Berburu dan mengumpal dipuncak gunung es
Bernyanyi – nyanyi diatas buaian
Tapi siap memberi kesegaran disaat matahari bersinar
Suara Para pencari, berjuang untuk kembali
Kembali untuk kejayaam negeri
Kembali merajut Nasionalisme yang mulai berlubang dikanan dan kiri
Kembali menaikkan martabat negeri yang hampir hilang ditelan krisis multi dimensi
Sinar Cahaya Para Pencari, Putera – Puteri Ibu Pertiwi
Telah mengartikan..
Kemerdekaan bagi kami, adalah masuk tanpa terjebak lagi
Kemerdekaan bagi kami adalah tersenyum dalam demokrasi
Kemerdekaan bagi kami adalah tanpa diskriminasi, tanpa intimidasi dan tanpa eksploitasi
Kemerdekaan Bagi kami adalah tiada lagi anarki
Kemerdekaan bagi kami adalah adanya keadilan hukum dan ekonomi pemerataan
Kemerdekaan bagi kami adalah cinta dalam sentuhan..
INSAN FAKIR
Senebar perasaan dalam bawaan kehidupan
Tatkala sigagap bercerita pada semesta
Tentang persoalan kehidupan yang penuh tandatanya
Apakah aku hidup hanya untuk seperti ini
Hanya dijadikan gelembung air sabun
Bukankah kau ciptakan aku sebagai seorang kholifah
Tapi kenapa alam memperlakukanku seperti anak jadah
Aku tidak ingin hidup hanya menanti
Aku ingin hidup dengan mencari'
Tapi kenapa jalanku semakin sempit
Semakin aku melangkah semakin aku teraniaya
Tuhan jelaskan padaku tentang tanda-tanda-Mu
Ketika saat ini imanku teguh kepadamu
Karna aku takut iman ini semakin melemah
Seiring cobaan yang bertubi tubi pada diri..
Ya robb.. tunjukkan cahaya padaku..
Berikan tanda untuk kesempurnaan diriku..
Ya Allah.. aku hanya insan lemah yang butuh belaian kasih dariMu..
Jeritanku.. ratapanku.. hanya untuk satu.. mohon petunjukMu
dalam mengarungi hidupku...
BUIH PENYINGKAP TABIR
Buih yang digiring dari tengah samudra pun terhisap pasir pantai
Buih yang menyembur bersama kekuatan emosimu
Mendekat menyingkap segala tabir yang tertimbun
Bersama gelombang kejujuran tanpa semu
Tabir yang tersimpan ayu
Telah mengorek seluruh rasa yang ada
Hanyutkan nafas dengan terengah-engah
Mendera berhias, bergetar pada darah yang terasa beku
Kisah para pelontar fitnah
Kisah para pengintimidasi
Kisah bau bangkai curut liar
Kisah para monyet bermuka dua
Habis sudah terbasuh, tersingkap pada buih-buih pembuka tabir
Tirai kehidupan yang nyaman, mendadak sirna
Tersudut oleh saksi
Membenamkan diri pada rasa malu yang tersi'ar
Buih penyingkap tabir
Lestari bersama kebesaran tuhan
Buih penyingkap tabir
Bersemi dalam misteri alam.
KOSONG
Dari ribuan kisah perjalanan separuh umur ini
Kepada kedua hambaMu yang telah melahirkanku
TEROPONG
Sajak ini tertumpu dan terus mengalun
menyeruak dengan suara yang keras dan cadas.
seolah diburu lebai yang mendayu jelas terkumandang
merajut, menuntut batasan demi batasan
Akankah semua arus itu akan tetap mengalir
atau berhenti dan berlanjut dalam kebuntuan
dilema dan prahara
teropongkan nasip seintip
Nasip ini bukanlah nasip semua umat
yang menjinjit sakit, terbentur keras dan cadas
Biarlah berjalan walau tanpa perhitungan
benturkan stigma ini pada misteri ilahi.
Atau pada teropong nasip yang merayap mencari satu jawaban
dalam ruang misteri essensi kehidupan
kan kuraba dengan hatiku
kan kujalani dengan tekatku
walau sering menjinjit sakit terbentur keras dan cadas
Teropong nasib yang mengintip dari ribuan pertanyaan
Teropong nasib yang mengintip dari ribuan harapan
Teopong nasib yang mengintip mencari jawaban
teropong nasibyang mengintip perjalanan panjang kehidupan
by. af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010
EVIDENSI
Hari itu adalah kaca
Cermin dari ruang peka
Dalam waktu tanpa ilusi
Menatap penuh pada kejelasan
Ruang yang terus bertambah pengap ini
Tiada toleransi walau sebiji
Hanya mampu tuk jelajahi waktu
Yang terus memandu pilu
Mandeg tanpa denting
Menunggu lampaui batasan waktu
Pada guncangan rana kehidupan
menopang butiran rasa yang terpendam
Mampukah mata ini menatap
Tatkala banyak hal terungkap
Dan terus meminta jawab
Pada angka-angka tepat.
Butiran – butiran kasih
Butiran – butiran cinta
Menguap ataukah merapat
Terhambur ataukah membaur
Evidensi perjalanan yang aman
Mampu menepis segala keraguan
Melirikpun tanpa intrik, berbisikpun tanpa sirik
Terindahkan senyaman berayun dalam keyakinan
CERMIN DI TROTOAR
Langkah zig zag pada jalan berukur
diatas susunan paving segi enam
setiakan ribuan yang lain berjalan bergantian
kelelahan ini sejenak mengkontemplasikan diri
pada rundung kegalauan yang mendalam.., seketika itu
aku seperti melihat ratusan kilatan menawarkan
ruang keindahan dalam setiap helaian nafas.
mereka dan arah masa depan
kemana kan temukan jalan terbaik
pada setiap langkah yang bergulat debu
dalam kerasnya lantai trotoar, disambut terik matahari
mobil mewah bergantian lalu lalang
gelandangan pengemispun tak mau kalah
dengan arus kesibukan
para cukong dan perampok negeri
satu sisi mencari koin penyambung hidup
disisi lain sibuk mengoleksi dolar
dengan dalih persempit laju inflasi
mencari kenyaman sampai generasi ke tujuh
rasa sosial dan perhatian negeri tercermin dari trotoar
kepada mereka para pengemis jalanan
meluapkan segala hipotesa tentang keserakahan manusia
yang terus memerahkan mata kumuh mereka
dalam pikiran dan kegalauan seorang manusia
aku ingin negeriku bersih dari kesenggangan sosial
aku ingin negeriku tegas mensikapi semua mediokritas kehidupan
dimana fakir miskin dan anak yatim, anak-anak terlantar adalah
tanggung jawab negara.., karena indonesiaku aku yakin mampu
pertegaslah hukuman bagi mereka para perampok negara
bukan demi siapa
tapi demi keadilan bangsa Indonesia
disini, di trotoar aku bicara sebagai rakyat Indonesia
af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010
SENANDUNG FATYA ELANG
Terbanglah elang, terbanglah!
terbangkan hidup seiring kering
berputar dan kejarlah
bersama penghantar ribuan denting
Keyakinan membulat
menghantar harapan yang tertimbun
membenamkan titik-titik yang mulai tak terukur
diburu bayang tuntutan kesadaran dalam alur
Abaikan saja semua dan bermanjalah diatas ayunan jalan lurus
pada bayang yang kuat berdiri mendampingi
walau cita tinggal sekedar cita
sekecil sekurus teri.
fatya elang bermunajat-lah dalam senandung lirih
berfikirlah dalam tatapan jernih
menyatulah pada jiwa alam raya
bersiulah dan bersenandung dalam rasa
Fatya elang adalah kesatria
Membahana Menerpa riuh angin badai sahara
Membawa jati diri pada kebenaran yang hakiki...
by. af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010










