Sajak ini tertumpu dan terus mengalun
menyeruak dengan suara yang keras dan cadas.
seolah diburu lebai yang mendayu jelas terkumandang
merajut, menuntut batasan demi batasan
Akankah semua arus itu akan tetap mengalir
atau berhenti dan berlanjut dalam kebuntuan
dilema dan prahara
teropongkan nasip seintip
Nasip ini bukanlah nasip semua umat
yang menjinjit sakit, terbentur keras dan cadas
Biarlah berjalan walau tanpa perhitungan
benturkan stigma ini pada misteri ilahi.
Atau pada teropong nasip yang merayap mencari satu jawaban
dalam ruang misteri essensi kehidupan
kan kuraba dengan hatiku
kan kujalani dengan tekatku
walau sering menjinjit sakit terbentur keras dan cadas
Teropong nasib yang mengintip dari ribuan pertanyaan
Teropong nasib yang mengintip dari ribuan harapan
Teopong nasib yang mengintip mencari jawaban
teropong nasibyang mengintip perjalanan panjang kehidupan
by. af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010
TEROPONG
EVIDENSI
Hari itu adalah kaca
Cermin dari ruang peka
Dalam waktu tanpa ilusi
Menatap penuh pada kejelasan
Ruang yang terus bertambah pengap ini
Tiada toleransi walau sebiji
Hanya mampu tuk jelajahi waktu
Yang terus memandu pilu
Mandeg tanpa denting
Menunggu lampaui batasan waktu
Pada guncangan rana kehidupan
menopang butiran rasa yang terpendam
Mampukah mata ini menatap
Tatkala banyak hal terungkap
Dan terus meminta jawab
Pada angka-angka tepat.
Butiran – butiran kasih
Butiran – butiran cinta
Menguap ataukah merapat
Terhambur ataukah membaur
Evidensi perjalanan yang aman
Mampu menepis segala keraguan
Melirikpun tanpa intrik, berbisikpun tanpa sirik
Terindahkan senyaman berayun dalam keyakinan
CERMIN DI TROTOAR
Langkah zig zag pada jalan berukur
diatas susunan paving segi enam
setiakan ribuan yang lain berjalan bergantian
kelelahan ini sejenak mengkontemplasikan diri
pada rundung kegalauan yang mendalam.., seketika itu
aku seperti melihat ratusan kilatan menawarkan
ruang keindahan dalam setiap helaian nafas.
mereka dan arah masa depan
kemana kan temukan jalan terbaik
pada setiap langkah yang bergulat debu
dalam kerasnya lantai trotoar, disambut terik matahari
mobil mewah bergantian lalu lalang
gelandangan pengemispun tak mau kalah
dengan arus kesibukan
para cukong dan perampok negeri
satu sisi mencari koin penyambung hidup
disisi lain sibuk mengoleksi dolar
dengan dalih persempit laju inflasi
mencari kenyaman sampai generasi ke tujuh
rasa sosial dan perhatian negeri tercermin dari trotoar
kepada mereka para pengemis jalanan
meluapkan segala hipotesa tentang keserakahan manusia
yang terus memerahkan mata kumuh mereka
dalam pikiran dan kegalauan seorang manusia
aku ingin negeriku bersih dari kesenggangan sosial
aku ingin negeriku tegas mensikapi semua mediokritas kehidupan
dimana fakir miskin dan anak yatim, anak-anak terlantar adalah
tanggung jawab negara.., karena indonesiaku aku yakin mampu
pertegaslah hukuman bagi mereka para perampok negara
bukan demi siapa
tapi demi keadilan bangsa Indonesia
disini, di trotoar aku bicara sebagai rakyat Indonesia
af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010
SENANDUNG FATYA ELANG
Terbanglah elang, terbanglah!
terbangkan hidup seiring kering
berputar dan kejarlah
bersama penghantar ribuan denting
Keyakinan membulat
menghantar harapan yang tertimbun
membenamkan titik-titik yang mulai tak terukur
diburu bayang tuntutan kesadaran dalam alur
Abaikan saja semua dan bermanjalah diatas ayunan jalan lurus
pada bayang yang kuat berdiri mendampingi
walau cita tinggal sekedar cita
sekecil sekurus teri.
fatya elang bermunajat-lah dalam senandung lirih
berfikirlah dalam tatapan jernih
menyatulah pada jiwa alam raya
bersiulah dan bersenandung dalam rasa
Fatya elang adalah kesatria
Membahana Menerpa riuh angin badai sahara
Membawa jati diri pada kebenaran yang hakiki...
by. af futhaki; Jakarta, 15 Januari 2010







